Om
Swastiastu. Om Ano Badrah Kratawoyantu Wiswatah.
Semoga
pikiran baik datang dari segala penjuru.
Swasti prapta di Blog Sastrayoni.
Angayubagia, Geguritan Kandara Bang menjadi tulisan
perdana dari blog Sastrayoni ini. Blog Sastrayoni ini penulis gunakan sebagai
wahana memposting karya-karya sastra yang penulis dapat himpun dari berbagai
sumber, termasuk karangan/koleksi sendiri.
Geguritan
ini merupakan karya saduran dari babon cerita Samkok asal Cina (I. 1-2) yang
secara penuh menggunakan Pupuh Ginada dalam 234 baitnya. Pengarang geguritan
menyebut dirinya sebagai I Damuh (I.1 ; I.5 ; XX.230) yang bertempat tinggal di
barat laut kuburan dan timur sawah di wilayah Banjar Pandya desa bata Turuk
Ngandang (XX. 232).
Si
pengarang mengaku membuat geguritan ini dengan serampangan, ditambah dia tidak
punya pengetahuan pada kebudayaan asal cerita ini (I.5-6), sehingga tentu saja
kisah dalam geguritan itu sudah mengalami sejumlah perbedaan dengan cerita
versi aslinya. Salah satu yang paling mencolok adalah nama para tokoh dan latar
tempat yang sudah diubah (I.7 – 14).
Alur
cerita ini adalah pada bagian I ada 14 bait pendahuluan, pada bagian II mulai
bait 15 – 22 mengisahkan permohonan Adimantri Merak untuk menghabisi negara
para musuh. Bagian III mulai bait 23 – 30 mengisahkan kekecewaan sekaligus
intimidasi Adimantri Merak pada Raja Pamayun di Wangsana. Berikutnya pada
bagian IV mengisahkan Raja Agung Wangsana memberikan delapan ratus ribu orang
pasukan, cerita ini dimulai dari bait 31 – 36. Kisah Adimantri Merak yang
menggempur wilayah-wilayah diceritakan mulai bait 37 – 45 pada bagian V.
Bagian
VI dari bait 46 – 53 menceritakan negara Lemah Api di timur yang terdesak
hingga terpaksa mundur dari peperangan, disusul dua orang permaisuri Raja Lemah
Api yang tewas dalam perjalanan di bait 54 – 64 pada bagian VII. Musyawarah
para pejabat Lemah Api lalu dikisahkan pada bait 65 – 70 bagian VIII. Hasil
dari pemusyawarahan, Sugih Liang diutus sebagai duta ke Negara Macan Gading
dari bait 71 – 86 bagian IX. Bagian X dari bait 87 – 96 kemudian mengisahkan
Raja Sardula dari Macan Gading bersedia ikut berperang.
Cerita
berlanjut pada bagian XI bait 97 – 106 mengisahkan persiapan perang, disusul awal
pemantik perang karena Raja Sardula tidak menggubris perintah Adimantri Merak
untuk menyerah pada bagian XII bait 107 – 112. Sayangnya pasukan Wangsana harus
menghadapi penyakit penular dalam perjalanan, yang malahan hal itu dijadikan
sarana oleh Adimantri Merak menggempur musuh pada bagian XIII bait 113 sampai
129. Kisah berlanjut lagi dengan upaya pencarian seratus ribu anak panah ke
kandang musuh yang dilakukan oleh Sugih Liang pada bagian XIV bait 130 – 153.
Bagian XV dari bait 154 – 175 lalu mengisahkan awal peperangan di laut.
Peperangan
di Kandara Bang lalu memuncak pada bagian XVI bait 176 – 188, berakhir dengan
pahit sebab pasukan Wangsana "membakar dirinya sendiri" pada kisah bagian XVIII
dari bait 189 – 205. Perang pun berakhir dengan pergulatan di pinggir laut pada
bagian XIX bait 206 – 228. Sedangkan
sebagai penutup adalah bagian XX bait 229 – 234.
Penulis
mengharapkan pula masukan serta saran konstruktif dari pembaca yang kelak
mengikuti episode-episode cerita Geguritan Kandara Bang ini, harapannya semoga
tulisan yang dibagikan di blog ini dapat bermanfaat, menghibur dan ada
nilainya. Ke depan setelah Geguritan Kandara Bang ini, penulis juga akan
berusaha membagikan (atau bila mampu juga akan membahas) karya-karya geguritan
lain, termasuk juga kakawin, parwa, kidung maupun satua dan sastra lainnya.
Semua akan penulis lakukan dalam keterbatasan yang dimiliki, sehingga dengan
kerendahan hati penulis senantiasa memohon masukan dan dukungan dari para
pembaca sekalian.
Rahayu.
Om
Santih Santih Santih Om.
Soma
Wage Dukut, Purnama Kapat Saka Warsa 1944.
10 Oktober 2022.
Geguritan dapat dibaca di pranala berikut:
Palet I : Pamahbah
Palet II : Sang Adimantri Nunas Jagi Nelasang Satru
Palet III: Adimantri Merak Duka ring Sang Ratu Wangsana
Palet IV: Prabu Wangsana Ngicen Bala Domas Tali
Palet V: Adimantri Nglurug Jagat
Palet VI: Jagat Wetan Ngelidin Satru
Palet VII: Nareswari Mantuk ring Marga
Palet VIII: Mapaigum ring Pasingidan
Palet IX: Sugih Liyang Kaduta maring Macan Gading
Palet X: Prabu Sardula Tedun Maperang
Palet XI: Pratataning Gelar
Palet XII: Surat Tan Pasastra
Palet XIII: Bala Wadwa Gempung Gering
Palet XIV: Lunga Ngruruh Jemparing
Palet XV: Pangawit Yuddha ring Tasik
Palet XVI: Siat ring Kandara Bang
Palet XVII: Bala Wangsana Nunjel Dewek
Palet XVIII: Panglantur Siat ring Pasisi, Gusti pada Gusti Ngadu Kawisesan
Palet XIX: Panguntat

ini modelnya sambung kak ya?
BalasHapus