Sastrayoni adalah ruang kecil untuk membaca, merawat, dan membicarakan sastra Jawa Kuno dan Bali. Penulis menggunakan wahana ini sebagai sejenis perapian untuk terus produktif menempa kata-kata dan menghasilkan karya, walau tentu masih jauh dari layak.
Nama Sastrayoni berangkat dari kata sastra dan yoni. Sastra sebagai pengetahuan, karya, dan warisan kebudayaan, yoni sebagai kelahiran. Filosofi yang ingin diusung terkait dengan kelahiran di jalan sastra, sebagai sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai. Sastra selalu lahir ketika dibaca, dibicarakan, ditafsirkan, lebih-lebih dapat diwariskan. Berbanding terbalik, pengarang justru mati setelah satu karya selesai. Karya berikutnya yang membuatnya hidup, untuk kemudian mati kembali.
Sastrayoni terutama menaruh perhatian pada sastra Jawa Kuno dan Bali, naskah lontar, serta berbagai bentuk kebudayaan dan karya sastra yang hidup dalam manuskrip maupun keseharian masyarakat. Geguritan, kakawin, kidung, parwa, satua, babad menjadi bagian dari ruang ini. Tidak hanya teksnya, tetapi juga cerita di balik teks, bahasa yang digunakan, konteks kebudayaannya, serta persoalan-persoalan yang membuatnya tetap relevan untuk dibicarakan hari ini. Ada kalanya blog ini akan dominan oleh karya-karya karangan baru, sebagai sumbangan renik terhadap pengembangan sastra daerah masa kini.
Sastrayoni juga menjadi tempat untuk berbagi catatan harian penulis. Hasil penelusuran, alih aksara, saduran, terjemahan, catatan pembacaan, serta serba-serbi mengenai sastra dan kebudayaan. Sebagian merupakan hasil penelitian, sebagian berasal dari pembacaan dan pengalaman pribadi.
Koreksi, tanggapan, saran-saran dan pembacaan dari pembaca sangat terbuka. Penulis yakin sebuah teks akan menjadi lebih hidup ketika tidak hanya dibaca oleh satu orang. Bersama-sama kita dapat menghidupkan lagi khazanah kesusastraan daerah di ruang ini.
Selamat membaca.
Komentar
Posting Komentar